![]() | ||||||||
| Gapura Makam Kuncen Adipati Madiun Jawa Timur |
Diantaranya yaitu : gabungan dari : kata “medi” (hantu) dan “ayun-ayun” (berayunan), yaitu dikisahkan ketika Ki Mpu Umyang / Ki Sura bersemedi untuk membuat sebilah keris di Sendang Panguripan ( sendang amerta ) di Wonorejo, (sekarang Kuncen) diganggu gendruwo/ hantu yang berayun-ayun di pinggir sendang, maka keris tersebut diberi nama ”Tundung Mediun”. Kemudian cerita lain berasal dari “Mbedi” (sendang) “ayun-ayunan” (perang tanding) yaitu perang antara Prajurit Mediun yang dipimpin oleh Retno Djumilah di sekitar sendang. Kata ”Mbediun” sendiri sampai sekarang masih lazim diucapkan oleh masyarakat, terutama di daerah Kecamatan Kare, Madiun. Mereka mengucapkan Mbediun untuk menyebutkan Madiun, versi berikutnya adalah Madya-ayun yaitu Madya ( tengah ) ayun ( depan ), Pangeran Timur adalah adik ipar atau putra bungsu Sultan Trenggono yang sangat di hormati oleh Sultan Hadiwijoyo di Kasultanan Pajang, maka pada waktu acara pisowanan beliau selalu duduk sejajar dengan Sultan Hadiwijoyo di Madya ayun ( tengah depan)
MADIUN PADA MASA KERAJAAN DEMAK SAMPAI MATARAM ISLAM
Pada akhir Pemerintahan Majapahit atau Masa awal kejayaan Kasultanan Demak Bintoro di wilayah Madiun selatan terdapat Kadipaten Gegelang atau Ngurawan, yang diperintah oleh Pangeran Adipati Gugur. salah satu putra Prabu Brawijaya V, yang tentunya masih setia pada Majapahit.
Kerajaan Majapahit yang telah dikudeta oleh Girindrawardana tahun 1478 dengan pusat pemerintahan di Daha, Kediri, dapat di taklukan oleh Pasukan Demak yang dipimpin oleh Sunan Kudus
tahun 1527, kemudian penaklukan melebar ke wilayah timur diantaranya
Tuban, Wirasaba (Mojoagung) tahun 1528, Gegelang (selatan Madiun) tahun
1529 dan wilayah kerajaan-kerajaan kecil bekas Majapahit lainnya.
Kyai Ageng Reksogati sebagai utusan Kasultanan Demak untuk menyebarkan Agama Islam di wilayah Madiun tepatnya di Desa Sogaten
mulai tahun 1518 (Sogaten = tempat Kyai Reksogati). Beliau selain
mendirikan pesantren juga sebagai pemimpin di wilayah tersebut. Kyai
Reksogati inilah yang dianggap sebagai cikal bakal berdirinya Kabupaten
Madiun.
Pangeran Timur dilantik menjadi Adipati di Purabaya bersamaan dengan dilantiknya Hadiwijoyo (Karebet/Joko Tinggkir) sebagai Sultan Pajang tanggal
18 Juli 1568, pemerintahan berpusat di Desa Sogaten, Sidomulyo dan
sekitarnya. Sejak saat itu secara yuridis formal Kadipaten Purabaya
menjadi suatu wilayah pemerintahan di bawah Kasultanan Pajang ( sebagai penerus Demak).
Pada tahun 1575 pusat pemerintahan dipindahkan dari Sogaten ke Desa Wonorejo (sekarang Kuncen) yang letaknya lebih strategis karena diapit 2 sungai yaitu Kali Catur dan Nggandong, sampai tahun 1590. Pada tahun 1586 Kesultanan Pajang Runtuh akibat adanya konflik internal dan serangan dari Mataram, maka Panembahan Rama
(sebutan lain Pangeran Timur) menyatakan bahwa Purabaya adalah
kadipaten bebas yang tidak terikat dengan hierarki Mataram, dengan tidak
tunduknya Purabaya pada Panembahan Senopati, maka Mataram segera mengirim ekspedisi militer untuk menaklukan Purabaya sebagai Kadipaten Wedana Mancanegara Timur (Brang wetan), tahun 1586 dan 1587.
Dalam ekspedisi tersebut prajurit Mataram selalu menderita kekalahan
yang cukup berat. Prajurit Purabaya dan sekutu dipimpin oleh salah
seorang prajurit wanita, yaitu Raden Ayu Retno Djumilah. Panembahan Rama dan Retno Djumilah memimpin seluruh prajurit gabungan Kadipaten Mancanegara Timur diantaranya, Kadipaten
Surabaya, Pasuruan, Kediri, Panaraga, Kedu, Brebek, Pakis, Kertosono,
Ngrowo, Blitar, Trenggalek, Tulung, Jogorogo dan Caruban.
Pada tahun 1590, dengan berpura-pura menyatakan takluk dalam versi lain atas saran Ki Mandaraka (Ki Juru Mertani) Panembahan Senopati mengutus seorang dayang cantik jelita bernama Nyai Adisara
untuk menyatakan kekalahan dengan membawa surat takluk dan sebagai
tanda, Nyai Adisara membasuh kaki Panembahan Rama yang airnya nanti
digunakan untuk siram jamas Panembahan Senopati, hal ini membuat Pasukan
Purabaya dan sekutunya terlena, maka pasukan sekutu berangsur-angsur
pulang ke daerahnya masing-masing.
Dengan ahli strategi Ki Juru Mertani yang didukung 4000 prajurit Mataram
telah siap di barat Kali Madiun untuk menyerang pusat istana Kadipaten
Purabaya, terjadilah perang hebat, hingga pada sore hari prajurit Madiun
kalah dan banyak yang melarikan diri ke timur, tinggalah Raden Ayu
Retno Djumilah yang ditugaskan untuk mempertahankan Purabaya, dengan di
bekali pusaka Keris Kala Gumarang dan sejumlah kecil prajurit yang tersisa, Retno Djumilah Madeg Senopati Perang.
Perang tanding terjadi antara Sutawijaya dengan Raden Ayu Retno
Djumilah terjadi disekitar sendang di dekat istana Wonorejo (daerah
Kuncen, Demangan). Pusaka Keris Kala Gumarang berhasil direbut oleh Sutawijaya dan
melalui bujuk rayunya, Raden Ayu Retno Djumilah dipersunting oleh
Sutawijaya kemudian diboyong ke istana Mataram sedangkan Panembahan Rama
melarikan diri ke Surabaya. Sebagai peringatan penguasaan Mataram atas
Purabaya tersebut maka pada hari Jum’at Legi tanggal 16 Nopember 1590
Masehi nama “Purabaya” diganti menjadi “Mbediyun ” atau Mediyun.
Sumber :
- Pemkot Madiun
- Pemkab Madiun
- Buku Sejarah Kabupaten Madiun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar