Kata Mutiara

Whoever observes fasts during the month of Ramadan out of sincere faith, and hoping to attain Allah's rewards, then all his past sins will be forgiven.(Al-Bukhari and Muslim)

Rabu, 20 Mei 2015

SABDA RAJA SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X

Berikut isi sabda raja dalam bahasa Jawa :

Siro adi ingsun, sekseono ingsun Sampean Dalem Ingkang Sinuhun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Surya ning Mataram, Senopati ing Kalogo, Langenging Bawono Langgeng, Langgeng ing Toto Panotogomo Kadawuhan netepake Putri Ingsun Gusti Kanjeng Ratu Pembayun tak tetepake Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram. Mangertenono yo mengkono dawuh ingsun.

(Artinya) :
Semua, saksikanlah saya Sampean Dalem Ingkang Sinuhun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Surya ning Mataram, Senopati ing Kalogo, Langenging Bawono Langgeng, Langgeng ing Toto Panotogomo mendapat perintah untuk menetapkan Putri saya Gusti Kanjeng Ratu Pembayun menjadi Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram. Mengertilah, begitulah perintah saya.

PENJELASAN SABDA RAJA OLEH SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X :
Sultan mengatakan, sejak sabda raja tersebut dikeluarkan, gelar yang disandangnya berubah menjadi “Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram Senapati Ing Ngalaga Langgeng Ing Bawono Langgeng, Langgeng Ing Toto Panoto Gomo”.

Menurut Sultan, pergantian nama itu merupakan “dawuh” atau perintah dari Allah melalui leluluhurnya. Dengan demikian tidak bisa dibantah, dan hanya bisa menjalankan saja.

“Dawuh itu mendadak. Kewenangan Gusti Allah dan tidak diperbolehkan dibantah,” kata dia. Adapun gelar “Buwono” menjadi “Bawono“, dia menjelaskan, “Buwono” memiliki arti jagad kecil sementara “Bawono” memiliki arti jagad besar. “Kalau disebut Buwono daerah, ya Bawono berarti nasional. Kalau Buwono disebut nasional, Bawono berarti internasional,” kata dia. 

Selanjutnya, perubahan “kaping sedoso” menjadi “kasepuluh” adalah untuk menunjukkan urutan. Sebab “kaping” memiliki arti hitungan tambahan, bukan “lir gumanti” (urutan).”Seperti “kapisan” (pertama), “kapindo” (kedua), “katelu” (ketiga) dan seterusnya. Jadi tidak bisa “kaping sedoso” karena dasarnya “lir gumanti”, kata dia.

Sementara itu, tambahan “Suryaning Mataram” menunjukkan berakhirnya perjanjian Ki Ageng Pemanahan dengan Ki Ageng Giring yang merupakan periode Mataram lama dari zaman Kerajaan Singasari sampai Kerajaan Pajang. Sementara mulai zaman Kerajaan Mataram dengan Raja Panembahan Senapati hingga Kerajaan Ngayogyakarta saat ini merupakan Mataram baru.

Adapun penggantian “Kalifatullah Sayidin” diganti “Langgeng Ing Toto Panoto Gomo” adalah menunjukkan berlanjutnya tatanan agama Allah di jagad.” Hanya itu yang bisa saya artikan, kalau lebih dari itu nanti jadi ngarang sendiri dan belum tentu benar. Saya hanya sekadar menyampaikan “dawuh”,” kata dia.
“Sabda Raja ini tidak pakai Assalamualaikum, bukan berarti di Keraton tidak boleh pakai Assalamualaikum. Ini dhawuh Gusti Allah, saya sampaikan titah Allah kepada orang lain, masa pakai Assalamualaikum,” ujar Sultan.

Hal ini disampaikan Sultan sebelum menyampaikan penjelasan mengenai Sabda Raja dan Dhawuh Raja di Ndalem W‎ironegaran, Keraton, Yogyakarta yang juga merupakan kediaman GKR Mangkubumi, Jumat (8/5/2015).

Sultan kembali membacakan Sabda Raja yang sudah disampaikan pada Kamis (30/5).

“Gusti Allah Gusti Agung Kuasa cipta paringana sira kabeh adiningsun sederek dalem sentolo dalem lan Abdi dalem.”


“Nampa welinge dhawuh Gusti Allah Gusti Agung Kuasa Cipta lan rama ningsun eyang eyang ingsun, para leluhur Mataram Wiwit waktu iki ingsun Nampa dhawuh kanugrahan Dhawuh Gusti Allah Gusti agung, Kuasa Cipta Asma kelenggahan Ingsun Ngarso Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuhun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Surya Ning Mataram Senopati ing Ngalaga Langgenging Bawono langgeng ing tata Panatagama.”


“Sabda Raja iki perlu dimengerteni diugemi lan ditindake yo mengkono.”

Setelah membeberkan sabda raja, Sultan HB X menegaskan, tidak ada pengangkatan GKR Mangkubumi dari yang sebelumnya GKR Pembayun, menjadi putri mahkota. “Saya hanya didawuhi untuk menetapkan nama, selanjutnya itu bukan lagi wewenang saya,” pungkasnya.

Sebelumnya gelar Raja Keraton Yogyakarta adalah Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat.
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar