Kata Mutiara

Whoever observes fasts during the month of Ramadan out of sincere faith, and hoping to attain Allah's rewards, then all his past sins will be forgiven.(Al-Bukhari and Muslim)

Senin, 25 Mei 2015

LAYANG KEKANCINGAN PIKUKUH

Anda masih mempunyai darah keturunan Keraton Yogyakarta ???, Jika anda yakin dan mempunyai bukti-bukti otentik mengenai silsilahnya, itu bisa diajukan ke Keraton.

Layang Kakancingan Pikukuh
 Caranya ??? Anda cukup datang ke Tepas (Kantor) Darah Dalem di sebelah barat Bangsal Pracimosono, Komplek Keraton Yogyakarta. Dengan menyerahkan identitas diri, sejarah silsilah serta disertai beberapa saksi, Anda bisa dipertimbangkan untuk mendapatkan gelar.

"Setelah data diserahkan, kami akan melakukan penelusuran," ujar Pimpinan Tepas Darah Dalem Keraton Yogyakarta K.R.T. Suryopadmonagoro, ketika ditemui Bernas di ruang kerjanya, Rabu (23/8). Penelusuran tersebut dilakukan dengan mencocokkan daftar yang diajukan pendaftar dengan daftar silsilah yang dipunyai Keraton. Jika benar, pendaftar dinyatakan lolos, dan berhak mendapat serat kekancingan yang menyatakan sebagai Trah Dalem.

Gelar yang diperoleh tergantung pada posisi dalam trah tersebut. Menurut Suryopadmonagoro yang pensiunan karyawan Departemen Sosial, gelar dalam Keraton itu berdasar pada grat-grat. Grat kesatu yakni Putra Raja bergelar Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH), Grat kedua cucu raja bergelar Raden Mas (RM); sedangkan Grat di bawahnya akan memiliki gelar Raden (R). Pria berusia 75 tahun itu menjelaskan bahwa dari awal sampai sekarang, masih ada saja yang mendaftarkan diri untuk mendapatkan gelar tersebut. "Kalau jumlahnya, wah ... banyak sekali. Yang jelas sampai sekarang masih terus ada yang mendaftarkan diri," katanya.

Soal keuntungan yang didapat dari gelar tersebut, Suryopadmonagoro mengatakan bahwa keuntungan materi jelas tidak bisa dijamin dengan gelar itu, apalagi soal hak waris. Kendati sudah menyandang gelar, bukan berarti mendapatkan hak waris. "INI MEMANG BUKAN UNTUK KEPENTINGAN MATERI," tutur cucu Hamengku Buwono VII ini. Namun yang lebih penting, menurut dia, hal itu SEBAGAI BENTUK IKATAN KEKELUARGAAN DENGAN TRAH KERATON. "Ibaratnya suh (tali) yang mempersatukan balung pisah," tuturnya. Gelar tersebut selain lebih mempersatukan secara batin dengan Keraton, akan memberikan ketenteraman bagi penyandang. "Tentu itu bagi yang percaya," lanjut Suryopadmonagoro, yang sudah sejak tahun 1981 mengabdi di Keraton Yogyakarta.

Sumber :
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar